Langsung ke konten utama

Pemimpin itu bukan Pimpinan!

Hari ini saya akan menulis tentang pemimpin walaupun pada hakikatnya saya tidak tau apa-apa mengenai kepemimpinan itu sendiri. Ini hanya hasil introspeksi diri dan observasi dari semua pengalaman yang telah dialami.
Menjadi seorang pemimpin adalah amanah yang luar biasa,walaupun dipilihnya seseorang menjadi pemimpin melewati banyak rintangan, melewati banyak jalan dan cara. Ada cara yang memang sesuai dengan syariat namun ada pula cara yang sangat 'melenceng'.
Tidak sedikit orang yang memimpikan untuk menjadi pemimpin,bahkan pemimpin kelas sekalipun atau pemimpin dalam barisan. Bahkan banyak sekaliorang yang telah mencatatkan dan menargetkan dalam tahunan impian mereka untuk menjadi pemimpin, entah menjadi pemimpin dalam organisasi ataupun pemimpin dalam negara.
TIdak akan ada yang keliru dari mimpi orang untuk menjadi seorang pemimpin. Karena ketika kita bermimpi menjadi pemimpin, yang ada dalam fikiran kita adalah bagaimana kita bisa memimpin dengan baik apa yang kita pimpin. Bagaimana agar kepemimpinan kita berjalan dengan baik, dan bagaimana inovasi-inovasi baru agar masa kepemimpinan kita dapatmembawa kemashlahatan bagi anggota kita.

Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana cara kita untuk tetap menjadi seorang pemimpin, dalam artian 'orang yang mengayomi, orang yangmenujukkan arah,orang yang selalu bekerja sama, orang yang selalu mendengar,dan orang yang bijak' untuk semua anggota-anggota kita dalam menjalankan kepemimpinan kita???
Mungkin saja kita selalu memikirkan itu bahkan kita punya beribu taktik yang sangat sempurna untuk kepemimpinan kita, namun apalah kita,kita hanyalah manusia biasa, yang harus belajar dari pengalaman yang kita alami.
Tidak akan ada pengalaman yang berulang, tidak akan ada masalah yang berulang. Karena Allah memang mempersiapkan semua skenario dengan sangat teratur.

Pada akhirnya, seorang pemimpin bukan hanya orang yang sangat 'sempurna'dari segi retorika, segi taktik, segi ide dan segi penampilan. Karena bisa jadi standar-standar itu menjadikan kita sebagai calon memimpin melupakan hal yang paling dasar dari sebuah kepemimpinan. Yaitu PEMIMPIN itu sangat beda dengan PIMPINAN.

Sebagai seorang pemimpin,kita perlu untuk membuat ide dan mendorong anggota kita dalam pencapaian visi dan misi kita, namun dalam hal ini kita bukanlah orang yang bisa seenaknya menginstruksikan perintah yang tidak sesuai dengan semestinya.

Pemimpin itu perlu mendengar, mendengar dari berbagi arah termasuk mendengar dari hatinya sendiri. Jangan sampai kita sebagai pemimpin kebakaran jenggot untuk menuntut anggota kita memenuhi tujuan organisasi dan pada akhirnya kita tidak lebih dari seorang pimpinan yang kejar tayang dan tidak memperhatikan keadaan anggotanya.

Semoga kita bisa mempersiapkan mimpi kita menjadi pemimpin yang bijaksana. Semoga kita menjadi pemimpin yang selalu mendengarkan dan selalu berbaik sangka.

Semoga kita menjadi pemimpin yang kuat dan bukan hanya sekedar PIMPINAN semata. Dan hanya kepada Allah tempat kita memohon petunjuk. :)


sedikit saya mengutip potongan artikel dari www.hidayatullah.com
Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin juz IImengatakan: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat di sebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.” (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jas Kuning

Alhamdulillah bisa kembali menorehkan cerita di blog ini. April 2015 resmi menjadi mahasiswa salah satu kampus terbaik di Indonesia. Ya, tahun ini setelah pemikiran dan persemedian panjang akhirnya saya memilih untuk melanjutkan studi saya di dalam negeri dan dengan biaya orang tua. It is too difficult since my father was die. But I am sure Allah will give better life for our family.   i always remember. since choose to continue my study. My brother always give me negative respon. and we always fight. hiks :( . It was a bad memories. Agustus 2015 saya sudah pindah sejenak dari Pulau Sulawesi ke Pulau Jawa. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Actually, I really confuse for my choice but I try to have fun. EPIDERS FKM UI 2015, Alhamdulillah, menjalani awal kuliah di sini terasa amazing. Bahkan sempat terbesik, enak sekali orang yang S1 nya di sini ya. SPP nya berbanding lurus dengan fasilitas yang ada. *Apa mungkin saya terlalu katro bilang ini ya hehehe.... So pas...

Berbuat

Berbuat atau saya biasa menyebutnya dengan kata 'action' -Seperti sutradara yang menginstruksikan kepada para pemeran dalam film untuk segera action ketika ada tanda atau aba-aba dari sutradara- Saya pun kembali berfikir apakah saya sudah berbuat? Kemudian menyuruh orang lain berbuat bersama-sama? Ataupun mengingatkan orang lain untuk segera mengeksekusi ide-ide mereka. Hehehe Saya jadi merasa malu tiba mengingatkan orang untuk berbuat sementara saya hanya stagnan dengan mimpi dan ide-ide saya. Tapi, sebagai bentuk pembelaan kepada diri saya, saya menganggap bahwa itu adalah gambaran perhatian dari saya, ketika  mengingatkan seseorang untuk berbuat, artinya kita sudah punya patokan mana hal baik yang seharusnya diperbuat dan bisa jadi hal-hal yang kita sampaikan kepada orang lain adalah hal yang telah menjadi bahan evaluasi dari apa yang pernah kita jalani. Saya fikir, kita bisa menolong orang lain untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang kita lakukan. Hehehe itu...

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana, memang betul kalimat di atas, bahwa bahagia itu sederhana tergantung bagaimana kita menyikapi setiap proses dalam hidup kita. Saya pun kadang mengakui bahwa memang betul bahagia itu sederhana bahkan kita hanya perlu bersyukur untuk mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup kita. “Bahagia lahir dari rasa syukur yang tak henti padaNya dan usaha untuk senantiasa berbagi apa yang kita bisa pada sesama. Itulah sebabnya kita bisa memilih untuk berbahagia setiap hari, setiap kali.”  ―  Helvy Tiana Rosa Bahagia itu cara kita menyikapi apa yang kita lalui. Seperti adik-adik di atas yang bahagia dengan aktivitas mereka. Bahagia itu bisa datang dari diri kita karena kesyukuran atas diri kita ataupun atas pencapaian orang lain yang dekat dengan kita. Sesederhana bahagia itu, saya pun merasakannya dan sangat ingin menulis kenangan ini sebagai penyemangat saya. Kira-kira setahun yang lalu pada sebuah organisasi, saya dan beberapa teman menja...